Biaya Pendaftaran hanya Rp600.000, bulanan Rp100.000
Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Munawir
gradient

GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN SALAFIYYAH AL MUNAWIR #2

2026
GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN SALAFIYYAH AL MUNAWIR #2

B. SEJARAH SINGKAT PONDOK

Sudah menjadi tradisi pada umumnya santri yang belajar di suatu pondok pesantren bila telah menyelesaikan pelajarannya kembali ke daerah masing-masing dan mendirikan pondok pesantren baru. Demikian halnya yang terjadi di Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir. Pondok pesantren ini didirikan oleh salah seorang santri K. H. Kholil Bangkalan Madura yang bernama K H. Abdullah Munawir bin Hasan. Bertahun-tahun lamanya K. H. Abdullah Munawir menimba ilmu dari guru besar para ulama tanah Jawa itu.


Suatu saat, seorang ulama yang cukup disegani dan salah satu santri K. H. Sholeh Darat Semarang yaitu K. H. Abdullah Sajjad meminta Kyai Hasan (ayahanda K. H. Abdullah Munawir) agar K. H. Abdullah Munawir ikut memperjuangkan agama Islam di daerah Pedurungan bersama K. H. Abdullah Sajjad setelah menyelesaikan belajarnya di Bangkalan Madura. Gagasan baik ini diamini oleh Kyai Hasan yang bertempat tinggal di Demak mengingat kondisi keagamaan di daerah Pedurungan yang masih minim. Bahkan dapat dikatakan termasuk daerah hitam Semarang.


Beberapa tahun kemudian K. H. Abdullah Munawir telah menyelesaikan belajarnya. Sekembali beliau dari Bangkalan Madura, K. H. Abdullah Munawir dinikahkan dengan Aisyah, salah seorang putri K. H. Abdullah Sajjad. Begitu cintanya K. H. Abdullah Sajjad dengan menantunya ini, beliau membangunkan sebuah pondok dan rumah untuk K. H. Abdullah Munawir sebagai tempat pengembangan agama Islam. Lokasinya tepat lurus di sebelah utara tempat tinggal K. H. Abdullah Sajjad. Hanya sebuah sungai yang memisahkannya. Lokasi tempat tinggal K. H. Abdullah Munawir itu sekarang tempat Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir berada. Sedangkan tempat tinggal K. H. Abdullah Sajjad berada di sebelah selatan sungai, yang sekarang berada di sekitar Masjid As Sajjad Sendangguwo. Rasa cinta yang begitu mendalam K. H. Abdullah Sajjad itu tidak hanya sampai di sini. Beberapa waktu kemudian K. H. Abdullah Munawir yang terkenal 'alim itu diutus K. H. Abdullah Sajjad menunaikan ibadah haji dengan tanggungan biaya dari K. H. Abdullah Sajjad.


Setelah sekian tahun mengabdikan dirinya untuk pengembangan agama Islam, K. H. Abdullah Munawir menghembuskan nafasnya terakhir pada tahun 1942. Belum genap seratus hari kematian K. H. Abdullah Munawir tempat pengembangan agama Islam yang dirintisnya dari nol bersama K. H. Abdullah Sajjad diporak-porandakan tentara Jepang. Sebuah pondok dan tempat tinggal beliau dibakar habis oleh tentara Dai Nippon tersebut. Hanya sebuah pohon sawo yang tersisa. Sampai sekarang pohon sawo yang ada di depan asrama putra Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir itu masih menjadi saksi bisu keberingasan tentara Jepang.


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, istri K. H. Abdullah Munawir (saat itu Nyai Rohmah) beserta putra putrinya mengungsi untuk sementara waktu. Karena keadaan yang belum aman, Nyai Rohmah dan putra putrinya bahkan sempat mengungsi dari satu tempat ke tempat lain puluhan kali (menurut cerita sampai tiga puluh lima tempat). Pertama kali beliau ke daerah Tunggu (dekat Meteseh Tembalang) dan terakhir kali di Gajah Ngaluran Demak. Ikut dalam pengungsian itu, Kyai Abdush Shomad, salah seorang santri K. H. Abdullah Munawir yang telah dinikahkan dengan Nyai Fadhlun, salah seorang putri K. H. Abdullah Munawir yang kelak akan meneruskan perjuangan K H. Abdullah Munawir. Lama pengungsian itu kurang lebih dua setengah tahun.


Beberapa hari setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Nyai Rohmah beserta keluarganya kembali ke Sendangguwo (sekarang Gemah). Disebabkan tempat tinggal dan pondok K. H. Abdullah Munawir yang telah hancur belum dibangun kembali, untuk sementara waktu Nyai Rohmah menetap di rumah H. Abdul Syukur (ayah H. Chamad) selama dua bulan. Kemudian sedikit demi sedikit membangun tempat tinggal keluarga.


Sekitar tahun 50-an keluarga almarhum K. H. Abdullah Munawir memulai kembali apa yang telah dirintis oleh K. H. Abdullah Munawir. Fasilitas pondok saat itu hanya mushola dan tempat untuk belajar dengan jumlah santri yang masih sedikit, yaitu kurang lebih dua puluh lima orang. Lambat laun banyak orang yang berminat untuk belajar agama Islam dan menetap di pondok. Hal itu karena mereka berasal dari daerah yang cukup jauh. Sehingga K. H. Abdush Shomad mendirikan semacam asrama untuk tempat tinggal para santrinya.


Pada mulanya pondok pesantren ini belum diberi nama secara pasti, tetapi masyarakat menamainya Pondok Pesantren Al Munawir. Kata Al Munawir diambil dari pendirinya, yaitu K.H Abdullah Munawir, sementara kata Salafiyyah adalah sistem pendidikannya yang menganut kaum salaf (ulama' terdahulu/tradisional), yaitu mengkaji kitab-kitab kuning yang disusun oleh ulama terdahulu. Akhirnya pondok pesantren ini dinamakan Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir hingga kini.


Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir berkembang cukup pesat semenjak dipimpin oleh K. H. Abdush Shomad karena beliau adalah sosok pribadi yang penuh semangat, berdedikasi tinggi, dan berloyalitas tinggi yang dilandasi dengan keimanan yang kuat. Pada masa kepemimpinan beliau pula Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir terdaftar dalam buku Departemen Agama RI, yaitu dalam buku Nama dan Data Potensi Pesantren Seluruh Indonesia nomor 2533/Prop.8/Kab.8/1972.


Pada tanggal 26 Juli 1991 Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir dirundung duka karena K. H. Abdush Shomad meninggal dunia. Kurang lebih 40 tahun beliau mengabdikan dirinya untuk berjuang menegakkan kalimat-kalimat Allah. Oleh karena itu, kepemimpinan di Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir digantikan oleh dua orang putranya yaitu Kyai Ahmad Rifa'i dan K. H. Drs. Ahmad Baidlowi. Kedua orang putranya ini mewarisi semangat juang dari K. H. Abdullah Munawir dan K. H. Abdush Shomad sehingga Pondok Pesantren Salafiyyah Al Munawir semakin berkembang baik sarana maupun kegiatan-kegiatannya. Dari aspek fisik misalnya pembangunan gedung madrasah diniyyah dan renovasi asrama santri putri. Perkembangan dalam kegiatan misalnya merayakan hari besar agama Islam (HBI), muwada'ah di setiap akhir tahun ajaran dengan menyelenggarakan seminar, bazar, lomba-lomba, dan pengajian. Selain itu pesantren intensif untuk siswa SD, SMP dan SMU, serta ziarah ke makam para wali dan ulama'.